Bisakah Buku Cerita Interaktif Menyelamatkan Periode Emas Anak dari Candu Layar?
Tim peneliti Universitas Negeri Malang merancang NUSA PLAY BOOK, media belajar interaktif berbasis kearifan lokal yang ampuh melatih motorik sekaligus mengurangi ketergantungan gawai pada anak usia dini.
Placeholder ilustrasi
Mengapa anak-anak zaman sekarang begitu sulit melepaskan pandangan dari layar ponsel pintar? Sebagian besar orang tua kerap mengeluhkan anak yang mudah tantrum ketika gawai dijauhkan dari genggaman mereka. Pada saat yang sama, buku pelajaran biasa di sekolah sering kali gagal memantik minat karena tampilannya yang datar dan minim stimulasi fisik. Padahal, masa kanak-kanak awal merupakan periode emas pertumbuhan ketika otak dan keterampilan koordinasi gerak menuntut rangsangan nyata dari lingkungan sekitar.
Menjawab kegelisahan tersebut, sekelompok peneliti dari Universitas Negeri Malang merancang media edukatif bernama NUSA PLAY BOOK. Perangkat belajar ini memadukan aktivitas fisik interaktif dengan unsur kearifan lokal Nusantara untuk merangsang rasa ingin tahu anak. Riset yang dipimpin oleh Ahmad bersama Galan Fernanda Wiratama, Nabila Rahayu Effendi, Oryza Sativa, Dani Irawan, Rizqi Fajar Pradipta, dan Muhammad Alfan membuktikan bahwa media fisik yang kaya sentuhan mampu mengembalikan kegembiraan belajar secara alami.
Tim periset menyadari bahwa anak usia dini menyerap pengetahuan terbaik melalui gerakan tangan, rabaan benda konkret, dan imajinasi aktif. Ketika anak terus-menerus menatap layar kaca, otot motorik halus serta koordinasi tubuh mereka tidak terlatih dengan baik. Melalui buku interaktif ini, anak diajak meraba tekstur, mencocokkan bentuk, dan memecahkan teka-teki visual bertema budaya Indonesia. Pendekatan tersebut dirancang khusus untuk menggantikan hiburan digital pasif menjadi pengalaman belajar yang menggerakkan fisik.
"Kami melihat anak-anak membutuhkan sarana belajar yang bisa mereka sentuh, rasakan, dan manipulasi secara langsung tanpa kehilangan unsur keseruan bermain," ujar Ahmad saat menceritakan pengembangan medianya. Perancangan buku ini melewati tahapan pengujian terstruktur untuk memastikan materi yang disajikan benar-benar tepat sasaran bagi anak usia dini. Tim peneliti menata setiap halaman agar memiliki fungsi ganda, yaitu melatih kelenturan jari jemari sekaligus menanamkan nilai budi pekerti luhur.
Media interaktif ini sukses memecah kejenuhan belajar di ruang kelas maupun lingkungan rumah. Anak-anak yang semula pasif kini terdorong menggerakkan tangan untuk membuka lipatan rahasia, memasang komponen karakter, dan merangkai cerita. Dani Irawan menambahkan bahwa pengenalan cerita rakyat lewat sarana manipulatif membuat daya ingat anak bertahan jauh lebih lama. Suasana belajar pun berubah menjadi petualangan visual yang menyenangkan, bukan lagi sekadar hafalan yang memberatkan pikiran anak.
Fenomena paparan layar gawai pada balita belakangan memang menjadi perhatian serius kalangan pemerhati keluarga di Indonesia. Ketergantungan pada gambar bergerak dua dimensi berisiko memperlambat kemampuan bicara serta membatasi kepekaan interaksi sosial anak. Oleh sebab itu, kehadiran media taktil yang menuntut keterlibatan fisik menjadi penting guna menyeimbangkan stimulasi sensorik. Anak yang terbiasa beraktivitas dengan buku fisik menunjukkan fokus yang lebih tenang dan daya konsentrasi yang lebih panjang.
Inovasi karya akademisi asal Kota Malang ini membuktikan bahwa pembaruan metode belajar tidak melulu harus mengandalkan teknologi canggih yang mahal. Media berbahan cetak dengan sentuhan rekayasa interaktif terbukti mampu menghidupkan kembali kecintaan membaca sejak dini. Rizqi Fajar Pradipta menekankan bahwa kehadiran orang tua atau guru saat mendampingi anak memegang buku menjadi kunci penting keberhasilan proses belajar ini. Interaksi tatap muka yang hangat semacam itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecanggihan aplikasi digital apa pun.
Belajar sambil bermain merupakan hak alami anak yang patut difasilitasi dengan media yang tepat dan ramah tumbuh kembang. Kehadiran NUSA PLAY BOOK memberi alternatif nyata bagi para pendidik untuk merancang kegiatan belajar yang dinamis tanpa membuat anak bosan. Menyediakan ruang eksplorasi fisik, kaya narasi Nusantara, serta ramah anak menjadi langkah awal membangun generasi yang sehat secara mental dan motorik. Mengurangi waktu menatap layar kini menjadi tugas yang jauh lebih mudah ketika anak menemukan keasyikan baru di atas lembaran buku.
Komentar (0)
informasi Terkait
Banjir Informasi Digital, Riset Baru Dorong Literasi Visual Bagi Mahasiswa
Riset terbaru memetakan lonjakan studi literasi visual di kampus global, menyoroti tingginya produktivitas riset akademisi Indonesia sekaligus tantangan minimnya kolaborasi internasional.
Bisakah Buku Cerita Interaktif Menyelamatkan Periode Emas Anak dari Candu Layar?
Tim peneliti Universitas Negeri Malang merancang NUSA PLAY BOOK, media belajar interaktif berbasis kearifan lokal yang ampuh melatih motorik sekaligus mengurangi ketergantungan gawai pada anak usia dini.
Kerangka Riset Ilmiah Yang Mengubah Tebakan Pasar Menjadi Keputusan Terukur
Banyak calon manajer sempat mengambil keputusan penting bermodal firasat semata. Lewat kerangka metodologi bertahap, periset bisnis kini membedah dinamika pasar secara terukur dan presisi.
Jangan lewatkan informasi sains dan teknologi terbaru.
Dapatkan ringkasan informasi riset mingguan.