Rekayasa Puasa Bakteri Sukses Bersihkan Air Limbah Kota dan Pangkas Polutan 69,6 Persen

Periset memodifikasi sistem pengolahan limbah perkotaan dengan tangki anaerobik khusus, memangkas polutan nitrit hingga 69,6 persen sekaligus menekan volume endapan kotoran.

14 Oktober 2026 24 kali dibaca 0 komentar
Rekayasa Puasa Bakteri Sukses Bersihkan Air Limbah Kota dan Pangkas Polutan 69,6 Persen

Limpahan air buangan rumah tangga perkotaan kerap membebani sungai dengan zat pencemar pekat, mulai dari sisa detergen hingga kotoran padat. Instalasi pengolahan limbah konvensional sering kewalahan membersihkan senyawa hara berbahaya seperti nitrogen dan fosfor yang merusak badan air. Menjawab tantangan lingkungan ini, tim periset lingkungan berhasil menguji coba metode modifikasi penyaringan biologis yang mempercepat pembersihan air limbah kota. Pendekatan anyar ini bekerja dengan memanfaatkan sifat alami mikroorganisme pengurai melalui pengelolaan siklus lapar dan kenyang yang terukur.

Inovasi ini mengawinkan sistem lumpur aktif standar dengan proses anaerobik khusus, yang dikenal sebagai sistem MLE-OSA. Melalui instalasi percontohan di Instalasi Pengolahan Air Limbah Kota Sari, peneliti menyisipkan tangki penahan lumpur kedap udara pada jalur sirkulasi endapan. Di dalam tangki berkapasitas 107 liter tersebut, endapan mikroba sengaja ditahan selama enam jam tanpa asupan oksigen sama sekali. Bakteri pengurai yang dipaksa berpuasa ini membakar cadangan energinya sendiri, sehingga saat dialirkan kembali ke tangki utama, mereka memburu dan melahap zat pencemar dengan jauh lebih rakus.

Hasil uji coba yang dipublikasikan dalam Journal of Advances in Environmental Health Research membuktikan keandalan sistem biologis ini. Riset mencatat bahwa kadar nitrit berbahaya dalam air olahan anjlok drastis hingga 69,6 persen dibandingkan sistem konvensional. Selain itu, sistem mampu menyusutkan endapan padatan tersuspensi sebesar 34 persen, memangkas total nitrogen hingga 26 persen, serta mengurangi kandungan fosfor sebesar 17 persen. Seluruh parameter keluaran air dari reaktor ini terbukti memenuhi baku mutu buangan lingkungan yang ditetapkan otoritas pemerintah setempat.

"Kunci keberhasilan metode ini bertumpu pada tekanan lingkungan yang kami berikan kepada koloni bakteri," ujar Reza Jalilzadeh Yengejeh, salah satu peneliti dari Universitas Islam Azad. Ia menjelaskan bahwa fase lapar di ruang tanpa udara membuat mikroba memecah sel-sel mati dan menyusutkan massa lumpur secara mandiri. Begitu bakteri kembali bertemu air limbah segar yang kaya oksigen, kemampuan mereka mengurai polutan organik meningkat berlipat ganda. Hasilnya, air buangan keluar dalam kondisi jauh lebih jernih tanpa perlu tambahan bahan kimia penjernih yang mahal.

Keberhasilan riset ini membuka angin segar bagi tata kelola sanitasi di perkotaan besar, termasuk di Indonesia. Selama ini, operasional fasilitas pengolahan air limbah menyedot anggaran besar hanya untuk mengangkut dan membuang timbunan lumpur endapan ke tempat pemrosesan akhir. Fasilitas pengolahan limbah komunal di kota padat seperti Jakarta atau Surabaya dapat meniru rancangan tangki penahan ini tanpa merombak total kolam beton yang sudah berdiri. Efisiensi tersebut berpotensi memotong biaya rutin pengelolaan lumpur yang biasanya memakan porsi terbesar dalam anggaran sanitasi kota.

Penerapan teknologi ini di lapangan tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis yang membutuhkan kecermatan operator. Petugas instalasi wajib menjaga kestabilan waktu tinggal cairan di dalam tangki agar bakteri tidak mati lemas akibat ketiadaan udara yang terlalu lama. Peneliti Behzad Nikpour bersama tim menyarankan pemantauan rutin terhadap tingkat keasaman cairan serta pergerakan potensial reduksi oksidasi secara digital. Pengawasan parameter fisika dan kimia ini memastikan populasi bakteri pengurai tetap berada pada kondisi prima untuk menyaring kotoran setiap hari.

Optimalisasi pembersihan air limbah perkotaan kini bukan lagi sekadar urusan mencegah pencemaran di hilir sungai. Air hasil olahan yang memenuhi standar mutu membuka peluang pemanfaatan ulang yang luas, seperti pasokan air irigasi taman kota maupun kebutuhan pendingin mesin industri. Eksperimen di Kota Sari membuktikan bahwa rekayasa biologis sederhana sanggup memecahkan kebuntuan teknologi sanitasi perkotaan secara hemat biaya. Dengan mengoptimalkan kerja mikroorganisme lokal, kota modern dapat mengalirkan kembali air yang bersih dan aman bagi kelestarian lingkungan hidup.

Komentar (0)

Masuk ikut berdiskusi.

informasi Terkait

Buletin

Jangan lewatkan informasi sains dan teknologi terbaru.

Dapatkan ringkasan informasi riset mingguan.