Menyembuhkan Luka di Meja Kerja

Periset Indonesia merancang modul pembelajaran mikro untuk membongkar perundungan terselubung di lingkungan kerja modern.

7 Agustus 2026 207 kali dibaca 0 komentar
Menyembuhkan Luka di Meja Kerja

Dada Dian selalu berdegup kencang setiap kali kakinya menyentuh lobi kantornya di bilangan Jakarta Pusat. Pemuda berumur 28 tahun itu bukan takut pada tumpukan tenggat tugas, melainkan pada tatapan dingin dan bisik-bisik rekan satu divisinya. Sudah enam bulan ia menelan sindiran tajam berbalut lelucon setiap sesi evaluasi mingguan berlangsung. Tanpa bekas lebam fisik atau makian terang-terangan, rasa terasing perlahan mengikis rasa percaya diri Dian hingga ia kehilangan nafsu makan dan kerap terjaga sepanjang malam.

Kisah Dian menjadi cermin retak bagi banyak ruang kerja di perkotaan Indonesia. Intimidasi psikologis kerap berjalan senyap, menyusup lewat pengabaian tugas, pemotongan hak bicara, hingga humor bernada merendahkan. Sebagian besar kantor masih merespons masalah pelik ini lewat selebaran aturan kaku atau seminar panjang yang membosankan. Karyawan yang sudah lelah bekerja akhirnya memilih menutup mata, membiarkan korban berjuang sendirian di sudut meja kerja mereka.

Melihat kebuntuan tersebut, dua periset Mei Rismawati dan Nabil Muttaqin merancang jalan keluar baru yang lebih membumi. Lewat studi yang terbit di Indonesian Journal of Community and Special Needs Education, mereka mengembangkan program pelatihan digital berbasis pembelajaran mikro bertajuk Tackling Bullying: Prevention, Perpetrator Intervention, and Victim Advocacy. Pelatihan ini mengurai materi anti-perundungan yang rumit menjadi rangkaian modul ringkas yang bisa diakses lewat layar ponsel.

Mei Rismawati memaparkan bahwa pendekatan edukasi bagi pekerja modern menuntut cara pandang yang berbeda. Menjejalkan dokumen aturan puluhan halaman kepada karyawan yang sibuk justru memicu penolakan sejak awal. "Pekerja butuh panduan yang langsung menjawab masalah tanpa menyita banyak waktu kerja mereka," ujar Mei saat menjelaskan alasan di balik format ringkas tersebut. Menurutnya, modul digital ini dirancang agar tuntas dipelajari dalam hitungan menit saat jeda makan siang atau di tengah perjalanan pulang.

Pengembangan modul ini melewati lima tahapan matang melalui model ADDIE, mulai dari memetakan kebutuhan karyawan, merancang alur materi, hingga memproduksi konten video dan teks singkat. Hasilnya terangkum dalam sepuluh modul terpadu yang memandu cara mengenali intimidasi, menghentikan pelaku, dan mendampingi rekan yang terluka. Tim ahli memberikan penilaian efektivitas program ini dengan skor 3,4, membuktikan bahwa materi ringkas tersebut sangat relevan dan layak diaplikasikan di berbagai lingkungan kerja.

Nabil Muttaqin menekankan pentingnya membangun keberanian rekan kerja di sekitar korban agar tidak menjadi penonton pasif. Banyak saksi perundungan kantor sebenarnya ingin menolong, tetapi mereka ragu karena takut ikut terseret masalah atau dicap ikut campur. "Modul ini memberi kalimat-kalimat konkret yang aman untuk menyela saat ada rekan kerja yang dipojokkan," tutur Nabil. Pendekatan ini membantu seluruh anggota tim menyadari bahwa diam di depan ketidakadilan sama saja dengan membiarkan budaya beracun tumbuh subur.

Dalam lingkup yang lebih luas, riset ini membuktikan bahwa perlindungan kesehatan jiwa pekerja tidak selalu membutuhkan anggaran pelatihan bernilai miliaran rupiah. Budaya kantor yang sehat justru tumbuh dari pembiasaan kecil harian yang dipahami oleh seluruh lapisan staf secara merata. Ketika batas etika kerja dijelaskan lewat contoh nyata yang lekat dengan keseharian kantor, ruang gerak bagi pelaku intimidasi terselubung akan menyempit dengan sendirinya.

Pagi itu, deru gerbong kereta rel listrik membawa Dian menuju stasiun tujuannya. Sembari memegang pegangan tangan kereta, jemarinya mengetuk layar ponsel pintar, menyimak video pendek berdurasi empat menit tentang cara merespons sindiran rekan kerja dengan tenang. Saat kereta berhenti perlahan di peron stasiun, ia menarik napas panjang dan melangkah keluar dengan kepala tegak. Dian kini tahu persis bahwa ia tidak lagi sendirian, dan ada batas tegas yang layak ia perjuangkan di ruang kantornya.

Tag:

Komentar (0)

Masuk ikut berdiskusi.

informasi Terkait

Buletin

Jangan lewatkan informasi sains dan teknologi terbaru.

Dapatkan ringkasan informasi riset mingguan.